(Persepsi) Kenapa Wanita Butuh Bekerja

Wanita bekerja? Menurut saya wanita bekerja dan menjadi wanita karir sekarang ini sudah menjadi kewajiban dan kebutuhan sekalipun sudah menikah. Saya tidak bilang harus berkarir yang tinggi-tinggi sampai melampaui karir suami. Saya tidak bilang harus berkarir di kantoran menggunakan stelan blazer dan bersepatu stileto. Saya tidak bilang harus bekerja sampai harus meninggalkan anak-anak yang menyebabkan anak jauh lebih akrab dengan nanny daripada bundanya sendiri. Saya tidak bilang harus bekerja sampai lalai dalam menjalankan tugas seorang istri kepada suami. Bekerja yang saya maksud adalah wanita harus bisa mempunyai kegiatan lain di luar pekerjaan rumah dan pekerjaan mengurus anak. Simple saja, seorang married women dan sudah memiliki anak bisa saja memilih berbisnis makanan ringan atau aneka kebutuhan anak sambil ber-arisan dengan ibu-ibu sesama pengantar anak ke sekolah. Hal tadi juga sudah bisa dikategorikan business women kan? bukan semata hanya uang yang dicari. Tapi aktualisasi wanita tersebut. Dengan bertemu banyak orang, wawasan si bunda juga akan terbuka. Jadi, tidak melulu soal dapur dan cucian yang dipikirkan.

wk

Bagi yang belum menikah seperti saya, berkarir menjadi “hidup” saya saat ini. Menghabiskan hari-hari di kantor. Duduk di depan laptop. Mengerjakan laporan ini-itu. Menghadapi penilaian tahunan dari manajemen. Membuat objektif baru akan pencapaian tahun berikutnya. Mendiskusikan ke arah mana saya ingin meningkatkan posisi saya. Dan siklus tersebut berputar setiap tahunnya. Selama tujuan karir yang saya ingin belum tercapai, rasanya masih ada beban dalam hidup saya. Seperti yang semalam teman saya katakan, ketika dia sudah berhasil naik satu level dalam pekerjaannya, beban hidupnya berkurang karena sudah tidak ada lagi “hutang” yang harus dia bayar ke perusahaan. Meskipun gak berarti beban pekerjaan juga berkurang.

Jujur saya menantikan saat dimana saya bisa bekerja, berkarier, tanpa ada tuntutan penilaian dari orang lain (berwirausaha). Karena saya tidak yakin sanggup bekerja di kantoran setelah saya memutuskan menikah kemudian memiliki anak. Saya tidak yakin sanggup menghadapi tekanan dari kantor ditambah kewajiban saya nantinya menjadi seorang istri dan ibu. Tapi saya tetap butuh berkarier dan bekerja. Impian saya adalah menjadi wirausahawan yang sukses di bisnis dan keluarga. Saya memimpikan bisa bekerja dari rumah tanpa meninggalkan anak-anak saya. Saya memimpikan setiap hari saya sendirilah yang akan mengantar dan menjemput anak-anak saya, di sela-sela menunggu mereka sekolah saya bisa mengerjakan bisnis saya. Saya memimpikan saya adalah orang pertama yang mendengar cerita kejadian di sekolah anak-anak saya, bukan nanny mereka. Saya butuh untuk melihat setiap menit pertumbuhan anak-anak saya. Saya butuh untuk menjadi orang yang selalu bisa diandalkan suami saya dalam menyiapkan segala kebutuhannya. Tapi saya juga perlu uang untuk sekedar membeli skin care ataupun gula di dapur yang tiba-tiba habis sedangkan suami belum memberikan uang belanja. Tapi saya juga perlu kehidupan dimana saya bisa bertemu dengan orang-orang selain suami dan anak-anak saya dan memiliki waktu untuk mengisi otak saya dengan wawasan baru agar saya tidak mejadi manusia yang kudet bagi suami dan anak-anak saya.

Apapun pilihannya, yang paling penting menurut saya wanita harus cerdas. Karena wanita yang cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas juga^^

SKD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s